Monday, October 29, 2012
Tak Jodoh
kering air mataku mengingat tentangmu
tentang kita yang tak jodoh
dulu pernah bermimpi saling memiliki
nyatanya pun tak kesampaian
relakanlah masa itu
biar menjadi masa lalu
kenang diriku selalu di hatimu
selalu di jiwamu, simpan di memorimu
ku nanti dirimu bila malam pun tiba
cukup kita yang tahu, mimpi jadi saksinya
Friday, April 6, 2012
Generasi Stres Masa Depan
GENERASI STRES MASA DEPAN
by Maria Utami Manullang on Saturday, March 10, 2012 at 3:09pm ·
Dalam salah satu cerpen nya yang berjudul "Kami Lepas Anak Kami", sastrawan Gus Sakai menuliskan keprihatinannya atas kondisi Indonesia saat ini. Cerpen tersebut bercerita tentang para orangtua yang setiap pagi, melakukan prosesi melepas kepergian anak-anaknya ke sekolah. Anak-anak mencium tangan sang Ayah, kemudian melambaikan tangannya untuk masuk ke dalam pekarangan sekolah. Rutinitas, setiap hari.
Namun pada suatu hari, sang Ayah ingin masuk ke dalam ruangan sekolah tersebut untuk bertemu kepala sekolahnya. Dia harus naik ke lantai dua, lantai tiga dan entah berapa lantai lagi, kemudian masuk ke ruangan, belok kanan, ke ruangan lagi, belok kanan, belok kiri, masuk ke ruangan yang gelap dan dingin hingga akhirnya dia baru menyadari, tak pernah bertemu dengan guru-guru dan kepala sekolah. Tiba-tiba ia berada di sebuah ketinggian dan bisa melihat pemandangan yg sangat "menakjubkan" : ribuan orangtua di sebuah lapangan, melakukan prosesi melepas anak-anaknya ke sekolah, dan ketika memasuki pekarangan sekolah, anak-anak itu berubah menjadi robot-robot yang menyandang tas dengan terbungkuk-bungkuk .....
Ya, anak-anak sudah menjadi robot. Setiap hari harus menanggung beban mata pelajaran, menghafal rumus ini-itu, membuat tugas, les ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, ikut bimbingan mata pelajaran untuk Ujian Nasional, untuk masuk perguruan tinggi, untuk masa depan mereka katanya. Mereka kehilangan waktu bermain; kehilangan keindahan masa kecil; belajar pagi sampai sore; ketika sampai ke rumah harus belajar lagi untuk esoknya dan kadang tak bisa pernah menikmati tidur nyenyak. Yang terbayang adalah guru-guru yang siap memberikan hukuman di sekolah ketika mereka terlambat masuk; ketika tidak membuat tugas; ketika tidak hafal rumus; ketika sepatunya tidak seragam; ketika uang sekolahnya terlambat; ketika uang beli bukunya terlambat hingga mereka lupa sarapan atau sekadar minum susu yang kini harganya melangit dan itu pun isunya tercampur bakteri mematikan. Sistem pendidikan kita tidak memberikan tempat kepada siswa untuk berpikir bebas, mempertanyakan sesuatu, berdiskusi dan sebagainya. Anak-anak dicekcoki dengan dogma dan aturan-aturan yang membuat mereka benar-benar dihantui.
Lihatlah di setiap pagi ketika musim ujian tiba; di jalanan ketika mereka diantar oleh ayah atau ibu mereka, banyak yang duduk di sadel kendaraan bermotor sambil membuka buku pelajaran dan membaca ketika kendaraan melaju kencang di tengah hiruk-pikuk dan semrawutnya lalu lintas. Mereka memaksakan diri untuk hafal rumus atau teori-teori tanpa aplikasi, yg mungkin akan keluar dalam ujian nanti. Sebuah cara belajar yang membahayakan dirinya, sang Ayah atau Ibu yg mengantar dan mengendarai motor atau pengendara lainnya. Mereka hanya punya satu keinginan: tidak salah dalam ujian nanti, maka berbagai cara dilakukan, termasuk membaca di atas motor. Maka beruntunglah bagi mereka yang diantar dengan mobil oleh Ayah atau Ibunya.
Menjelang meninggalkan sekolah di akhir kelas III, mereka juga harus menghadapi persoalan yang berat: ujian nasional. Inilah monster yang beberapa tahun terakhir menghantui anak-anak sekolah. Mereka harus mencapai nilai yang sudah ditentukan oleh pusat untuk bisa lulus, kalau tidak ingin mengulang lagi. Per mata pelajaran harus mencapai nilai tersebut dan tidak dihitung komulatifnya seperti sistem ujian nasional sepuluh atau lima belas tahun lalu ketika Nilai Ebtanas Murni (NEM) hanya menjadi salah satu syarat lulus, dan bukan satu-satunya syarat lulus.
Entah akan jadi apa generasi kita kedepan ketika beban berat di pikiran mereka sudah ditumpukkan bahkan ketika mereka masih di bangku sekolah. Bukan tidak mungkin, keinginan untuk mendapatkan generasi cerdas di masa depan, akan berubah menjadi monster baru: generasi stres yg tak mampu menerima sebuah sistem pendidikan dan pengajaran yg dipaksakan oleh negara!
by Maria Utami Manullang on Saturday, March 10, 2012 at 3:09pm ·
Dalam salah satu cerpen nya yang berjudul "Kami Lepas Anak Kami", sastrawan Gus Sakai menuliskan keprihatinannya atas kondisi Indonesia saat ini. Cerpen tersebut bercerita tentang para orangtua yang setiap pagi, melakukan prosesi melepas kepergian anak-anaknya ke sekolah. Anak-anak mencium tangan sang Ayah, kemudian melambaikan tangannya untuk masuk ke dalam pekarangan sekolah. Rutinitas, setiap hari.
Namun pada suatu hari, sang Ayah ingin masuk ke dalam ruangan sekolah tersebut untuk bertemu kepala sekolahnya. Dia harus naik ke lantai dua, lantai tiga dan entah berapa lantai lagi, kemudian masuk ke ruangan, belok kanan, ke ruangan lagi, belok kanan, belok kiri, masuk ke ruangan yang gelap dan dingin hingga akhirnya dia baru menyadari, tak pernah bertemu dengan guru-guru dan kepala sekolah. Tiba-tiba ia berada di sebuah ketinggian dan bisa melihat pemandangan yg sangat "menakjubkan" : ribuan orangtua di sebuah lapangan, melakukan prosesi melepas anak-anaknya ke sekolah, dan ketika memasuki pekarangan sekolah, anak-anak itu berubah menjadi robot-robot yang menyandang tas dengan terbungkuk-bungkuk .....
Ya, anak-anak sudah menjadi robot. Setiap hari harus menanggung beban mata pelajaran, menghafal rumus ini-itu, membuat tugas, les ini-itu, ikut pelatihan ini-itu, ikut bimbingan mata pelajaran untuk Ujian Nasional, untuk masuk perguruan tinggi, untuk masa depan mereka katanya. Mereka kehilangan waktu bermain; kehilangan keindahan masa kecil; belajar pagi sampai sore; ketika sampai ke rumah harus belajar lagi untuk esoknya dan kadang tak bisa pernah menikmati tidur nyenyak. Yang terbayang adalah guru-guru yang siap memberikan hukuman di sekolah ketika mereka terlambat masuk; ketika tidak membuat tugas; ketika tidak hafal rumus; ketika sepatunya tidak seragam; ketika uang sekolahnya terlambat; ketika uang beli bukunya terlambat hingga mereka lupa sarapan atau sekadar minum susu yang kini harganya melangit dan itu pun isunya tercampur bakteri mematikan. Sistem pendidikan kita tidak memberikan tempat kepada siswa untuk berpikir bebas, mempertanyakan sesuatu, berdiskusi dan sebagainya. Anak-anak dicekcoki dengan dogma dan aturan-aturan yang membuat mereka benar-benar dihantui.
Lihatlah di setiap pagi ketika musim ujian tiba; di jalanan ketika mereka diantar oleh ayah atau ibu mereka, banyak yang duduk di sadel kendaraan bermotor sambil membuka buku pelajaran dan membaca ketika kendaraan melaju kencang di tengah hiruk-pikuk dan semrawutnya lalu lintas. Mereka memaksakan diri untuk hafal rumus atau teori-teori tanpa aplikasi, yg mungkin akan keluar dalam ujian nanti. Sebuah cara belajar yang membahayakan dirinya, sang Ayah atau Ibu yg mengantar dan mengendarai motor atau pengendara lainnya. Mereka hanya punya satu keinginan: tidak salah dalam ujian nanti, maka berbagai cara dilakukan, termasuk membaca di atas motor. Maka beruntunglah bagi mereka yang diantar dengan mobil oleh Ayah atau Ibunya.
Menjelang meninggalkan sekolah di akhir kelas III, mereka juga harus menghadapi persoalan yang berat: ujian nasional. Inilah monster yang beberapa tahun terakhir menghantui anak-anak sekolah. Mereka harus mencapai nilai yang sudah ditentukan oleh pusat untuk bisa lulus, kalau tidak ingin mengulang lagi. Per mata pelajaran harus mencapai nilai tersebut dan tidak dihitung komulatifnya seperti sistem ujian nasional sepuluh atau lima belas tahun lalu ketika Nilai Ebtanas Murni (NEM) hanya menjadi salah satu syarat lulus, dan bukan satu-satunya syarat lulus.
Entah akan jadi apa generasi kita kedepan ketika beban berat di pikiran mereka sudah ditumpukkan bahkan ketika mereka masih di bangku sekolah. Bukan tidak mungkin, keinginan untuk mendapatkan generasi cerdas di masa depan, akan berubah menjadi monster baru: generasi stres yg tak mampu menerima sebuah sistem pendidikan dan pengajaran yg dipaksakan oleh negara!
Friday, March 23, 2012
Ungkapan Hati Seorang Ayah
Anakku,
Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.
Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.
Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”
Nak, …
Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.
Ayah, Yang selalu menyayangimu
sumber : motivationplannet.wordpress.com
Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.
Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.
Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”
Nak, …
Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.
Ayah, Yang selalu menyayangimu
sumber : motivationplannet.wordpress.com
Friday, March 16, 2012
Pergumulan
Kau s'lalu punya cara untuk menolongku
Kau s'lalu punya jalan keajaibanMu
Kau dahsyat dalam segala perbuatanMu
Dan ku tenang dalam caraMu
Akhir-akhir ini lagu ini s'lalu terngiang-ngiang di kepalaku.
Setelah direnung-renungkan lagi, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Dia selesaikan.
Ketika aku bergumul dengan judul PKL dan dosen pembimbing, Dia dateng terus bilang "Nih judul PKL kamu, dan ini dosen pembimbing kamu."
Ketika aku memulai lagi untuk saat teduh, Dia selalu memberi aku semangat menggebu-gebu setiap hari, dan ajaran-ajaran baru setiap hari.
Ketika aku haus akan firmanNya, Dia tunjukkan aku firman Tuhan melalui keluargaku, melalui teman-temanku dan melalui notes yang aku baca.
Ketika aku merindukan keluargaku, Dia berikan SUPER GREAT QUALITY TIME bersama keluargaku.
Ketika aku merindukan teman-temanku, Dia berikan aku kesempatan untuk berkumpul bersama.
Ketika aku merindukan pacarku yang jauh disana, Dia berikan aku kesempatan untuk bertemu.
Dan masih banyak ketika-ketika yang lain yang dia berikan kepadaku.
Seperti yang dia katakan, "Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you. (Matthew 7:7)"
God is really good.
Tuhan itu baik dan Dia menyayangi aku dan kamu. :)
Kau s'lalu punya jalan keajaibanMu
Kau dahsyat dalam segala perbuatanMu
Dan ku tenang dalam caraMu
Akhir-akhir ini lagu ini s'lalu terngiang-ngiang di kepalaku.
Setelah direnung-renungkan lagi, tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Dia selesaikan.
Ketika aku bergumul dengan judul PKL dan dosen pembimbing, Dia dateng terus bilang "Nih judul PKL kamu, dan ini dosen pembimbing kamu."
Ketika aku memulai lagi untuk saat teduh, Dia selalu memberi aku semangat menggebu-gebu setiap hari, dan ajaran-ajaran baru setiap hari.
Ketika aku haus akan firmanNya, Dia tunjukkan aku firman Tuhan melalui keluargaku, melalui teman-temanku dan melalui notes yang aku baca.
Ketika aku merindukan keluargaku, Dia berikan SUPER GREAT QUALITY TIME bersama keluargaku.
Ketika aku merindukan teman-temanku, Dia berikan aku kesempatan untuk berkumpul bersama.
Ketika aku merindukan pacarku yang jauh disana, Dia berikan aku kesempatan untuk bertemu.
Dan masih banyak ketika-ketika yang lain yang dia berikan kepadaku.
Seperti yang dia katakan, "Ask and it will be given to you; seek and you will find; knock and the door will be opened to you. (Matthew 7:7)"
God is really good.
Tuhan itu baik dan Dia menyayangi aku dan kamu. :)
untuk kamu, kalian, mereka yang pernah aku kecewakan. maaf.
beberapa minggu terakhir ini aku ngerasa banyak melakukan kesalahan.
mulai dari gampang terintimidasi.
berbicara sebelum berpikir.
kurang mendengar.
no action talk only.
bersikap tidak baik.
dan banyak kesalahan lainnya.
gampang terintimidasi.
seringkali aku dipengaruhi oleh bisikan-bisikan orang lain yang menyebabkan aku tidak bersukacita.
terlalu gampang digoyahkan oleh pendapat orang-orang.
dan tidak berpendirian.
berbicara sebelum berpikir.
hal yang sudah lebih dari sering aku lakukan.
untuk apa berbicara kalau malah membuat kecewa dan gelisah di hati orang-orang?
untuk apa bercanda tidak penting yang malah membuat orang lain sakit hati?
kurang mendengar.
aku merasa bukan seorang pendengar yang baik.
di saat orang lain bercerita dan berkeluh kesah,
aku malah bercerita dan berkeluh kesah kembali ke orang itu.
kapan orang lain bisa tenang curhat kepadaku tanpa harus mendengarkan curhatanku ?
no action talk only.
berbicara terus.
berjanji terus.
hanya tahu berjanji tanpa melaksanakan.
menyia-nyiakan kepercayaan orang lain.
bersikap tidak baik.
kelakuanku tidak menjadi berkat untuk orang-orang di sekelilingku.
kesalahan lain.
beribu-ribu kesalahan yang tidak dapat ditulis satu persatu.
untuk kamu, kalian, mereka yang pernah aku kecewakan.
maaf.
maaf untuk candaan yang berlebihan.
maaf untuk perbuatan yang tidak berkenan.
maaf untuk semuanya.
God bless
mulai dari gampang terintimidasi.
berbicara sebelum berpikir.
kurang mendengar.
no action talk only.
bersikap tidak baik.
dan banyak kesalahan lainnya.
gampang terintimidasi.
seringkali aku dipengaruhi oleh bisikan-bisikan orang lain yang menyebabkan aku tidak bersukacita.
terlalu gampang digoyahkan oleh pendapat orang-orang.
dan tidak berpendirian.
berbicara sebelum berpikir.
hal yang sudah lebih dari sering aku lakukan.
untuk apa berbicara kalau malah membuat kecewa dan gelisah di hati orang-orang?
untuk apa bercanda tidak penting yang malah membuat orang lain sakit hati?
kurang mendengar.
aku merasa bukan seorang pendengar yang baik.
di saat orang lain bercerita dan berkeluh kesah,
aku malah bercerita dan berkeluh kesah kembali ke orang itu.
kapan orang lain bisa tenang curhat kepadaku tanpa harus mendengarkan curhatanku ?
no action talk only.
berbicara terus.
berjanji terus.
hanya tahu berjanji tanpa melaksanakan.
menyia-nyiakan kepercayaan orang lain.
bersikap tidak baik.
kelakuanku tidak menjadi berkat untuk orang-orang di sekelilingku.
kesalahan lain.
beribu-ribu kesalahan yang tidak dapat ditulis satu persatu.
untuk kamu, kalian, mereka yang pernah aku kecewakan.
maaf.
maaf untuk candaan yang berlebihan.
maaf untuk perbuatan yang tidak berkenan.
maaf untuk semuanya.
God bless
Dia yang di ambil dari tulang rusukmu
note ini saya repost dari note Hista Ivalen.
Semoga terberkati :)
Dia yg diambil dari tulang rusukmu.
Jika Tuhan mempersatukan dua org yg berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.
Dialah penolong yg sepadan, bukan sparing partner yg sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tdk berhadapan utk melawanmu, tapi dia akan berada bersamamu utk berjaga2 di belakang, saat kamu ada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu. Dia adalah pribadi yg tdk ada sebelumnya dlm dirimu.
Ketika pertandingan dimulai,pastikan dia ada di lapangan yg sama sebagai partner. Dialah yg akan menutupi kekuranganmu sebagai cowok.
Dia ada utk melengkapi yg tdk ada dlm laki2 yaitu :
perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim utk melahirkan, mengurusi hal2 yg sepele, sehingga ketika laki2 tdk mengerti hal2 itu, dialah yg akan menyelesaikan bagiannya sehingga tanpa disadari ketika seorang cowok menjalankan sisa hidupnya, mereka menjadi lebih kuat krn kehadiran seorg cewek di sisinya.
Jika ada makhluk yg sangat bertolak belakang, kontras dgn cowok, itulah cewek. Jika ada makhluk yg sanggup menaklukkan hati hanya dgn sebuah senyuman, itulah cewek.
Dia tdk butuh argumentasi hebat dari seorg cowok, tetapi ia butuh jaminan rasa aman darimu krn ia ada utk dilindungi tdk hanya secara fisik tapi juga secara emosi. Dia tdk tertarik kpd fakta2 yg akurat, bahasa yg teliti & logis yg bisa disampaikan secara detail dari seorg cowok. Tetapi yg ia butuhkan adalah perhatiannya, kata2 yg lembut, ungkapan2 sayang yg sepele namun baginya sangat berarti.
Batu yg keras dpt terkikis oleh air yg luwes, sifat cowok yg keras dpt dinetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yg lembut tdk mudah tumbang oleh badai, dibandingkan dgn pohon yg besar & rindang.
Seperti juga dlm kelembutannya di situlah terletak kekuatan & pertahanan yg membuatnya bisa bertahan dlm situasi apa pun, ia lembut bukan utk diinjak-injak. Rumput yg lembut akan dinaungi oleh pohon yg kokoh & rindang.
Jika cowok berpikir ttg perasaan cewek, itu cuma sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika cewek berpikir ttg perasaan cowok, itu akan menyita seluruh hidupnya, krn cewek diciptakan dari tulang rusuk cowok, krn cewek diciptakan sbg bagian dari cowok.
Sekalipun cewek jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karna ia lahir & dibesarkan disana karna mereka, ia menjadi seperti sekarang ini perasaannya terhadap keluarganya.
Pay attention from this notes for all of u guys.
TUHAN memberkati
Semoga terberkati :)
Dia yg diambil dari tulang rusukmu.
Jika Tuhan mempersatukan dua org yg berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.
Dialah penolong yg sepadan, bukan sparing partner yg sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tdk berhadapan utk melawanmu, tapi dia akan berada bersamamu utk berjaga2 di belakang, saat kamu ada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewat olehmu. Dia adalah pribadi yg tdk ada sebelumnya dlm dirimu.
Ketika pertandingan dimulai,pastikan dia ada di lapangan yg sama sebagai partner. Dialah yg akan menutupi kekuranganmu sebagai cowok.
Dia ada utk melengkapi yg tdk ada dlm laki2 yaitu :
perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim utk melahirkan, mengurusi hal2 yg sepele, sehingga ketika laki2 tdk mengerti hal2 itu, dialah yg akan menyelesaikan bagiannya sehingga tanpa disadari ketika seorang cowok menjalankan sisa hidupnya, mereka menjadi lebih kuat krn kehadiran seorg cewek di sisinya.
Jika ada makhluk yg sangat bertolak belakang, kontras dgn cowok, itulah cewek. Jika ada makhluk yg sanggup menaklukkan hati hanya dgn sebuah senyuman, itulah cewek.
Dia tdk butuh argumentasi hebat dari seorg cowok, tetapi ia butuh jaminan rasa aman darimu krn ia ada utk dilindungi tdk hanya secara fisik tapi juga secara emosi. Dia tdk tertarik kpd fakta2 yg akurat, bahasa yg teliti & logis yg bisa disampaikan secara detail dari seorg cowok. Tetapi yg ia butuhkan adalah perhatiannya, kata2 yg lembut, ungkapan2 sayang yg sepele namun baginya sangat berarti.
Batu yg keras dpt terkikis oleh air yg luwes, sifat cowok yg keras dpt dinetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yg lembut tdk mudah tumbang oleh badai, dibandingkan dgn pohon yg besar & rindang.
Seperti juga dlm kelembutannya di situlah terletak kekuatan & pertahanan yg membuatnya bisa bertahan dlm situasi apa pun, ia lembut bukan utk diinjak-injak. Rumput yg lembut akan dinaungi oleh pohon yg kokoh & rindang.
Jika cowok berpikir ttg perasaan cewek, itu cuma sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika cewek berpikir ttg perasaan cowok, itu akan menyita seluruh hidupnya, krn cewek diciptakan dari tulang rusuk cowok, krn cewek diciptakan sbg bagian dari cowok.
Sekalipun cewek jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karna ia lahir & dibesarkan disana karna mereka, ia menjadi seperti sekarang ini perasaannya terhadap keluarganya.
Pay attention from this notes for all of u guys.
TUHAN memberkati
Saturday, February 25, 2012
Ungkapan Hati Seorang Ayah
Anakku,
Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.
Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.
Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”
Nak, …
Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.
Ayah, Yang selalu menyayangimu
Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.
Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.
Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”
Nak, …
Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.
Ayah, Yang selalu menyayangimu
Surat Untuk Mama
Kisah ini terjadi di suatu pagi yang cerah, yaa…mungkin tidak begitu cerah untuk seorang mama yang kebetulan memeriksa kamar putrinya. Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan “untuk mama” di atas kasurnya dia mulai membuka surat itu
Mama tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat mama membaca surat ini aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekeasih ku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia, mama pasti setuju meski dia banyak tato yang melekat di tubuhnya juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa walaupun belum begitu tua (aku pikir zaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadap ku, lebih lagi dia ayah dari anak dalam kandungan ku saat ini. dia meminta ku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan bisa membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan ekstasi yang sangat luas, dia juga meyakinkan ku bahwa kawin lari tidaklah begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.
Aku tahu kalau dia punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia pada ku dengan cara yang berbeda. Mama…jangan khawatir keadaan ku, aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diri ku. Salam sayang untuk kalian semua . oh iya , berikan boneka ku untuk adik ku, dia sangat menginginkannya.
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, mama membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu
Ps : mama…tidak ada satu pun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya ingin menunjukan ada ribuan hal yang lebih mengerikan daripada nilai rapor ku yang buruk. Kalau mama mau menandatangani rapor ku di atas meja, panggil aku ya…aku tidak kemana-mana, aku ada di tetangga sebelah.
hanya lelucuan saja..
:D
Mama tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat mama membaca surat ini aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekeasih ku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia, mama pasti setuju meski dia banyak tato yang melekat di tubuhnya juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa walaupun belum begitu tua (aku pikir zaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadap ku, lebih lagi dia ayah dari anak dalam kandungan ku saat ini. dia meminta ku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan bisa membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan ekstasi yang sangat luas, dia juga meyakinkan ku bahwa kawin lari tidaklah begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.
Aku tahu kalau dia punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia pada ku dengan cara yang berbeda. Mama…jangan khawatir keadaan ku, aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diri ku. Salam sayang untuk kalian semua . oh iya , berikan boneka ku untuk adik ku, dia sangat menginginkannya.
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, mama membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu
Ps : mama…tidak ada satu pun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya ingin menunjukan ada ribuan hal yang lebih mengerikan daripada nilai rapor ku yang buruk. Kalau mama mau menandatangani rapor ku di atas meja, panggil aku ya…aku tidak kemana-mana, aku ada di tetangga sebelah.
hanya lelucuan saja..
:D
Friday, February 17, 2012
Ibuku hanya memiliki satu mata
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Keesokan harinya di sekolah "Ibumu hanya punya satu mata?!?!" Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, "Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!" Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang
menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"
Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, betapa kagetnya dia setelah membaca surat itu, ternyata satu rahasia besar yang terpendam selama ini telah terkuak. Dan baru diketahui olehnya sekarang, bahwa satu mata ibunya telah disumbangkan kepada dirinya yang seharusnya “Dialah yang memiliki mata satu”.
Tatapan nanar anak durhaka tersebut yang memandang ibunya yang tergolek tak berdaya dilantai telah kering dari air mata, seakan-akan air mata pun tidak sudi dan tidak mau menyumbangkan kesedihan air matanya untuknya.
Kini, di benaknya tertimbun setumpuk penyesalan atas perbuatannya dan setumpuk dosa telah terparti di dalam otaknya. Wanita mata satu itu yang telah mengorbankan hidup deminya telah meregang nyawanya akibat perbuatannya yang sungguh….sungguh…sangat durhaka………..
Penyesalan datang tiada guna, nasi sudah jadi bubur…….itulah istilah yang pas ditujukan untuknya………
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang
menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"
Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, betapa kagetnya dia setelah membaca surat itu, ternyata satu rahasia besar yang terpendam selama ini telah terkuak. Dan baru diketahui olehnya sekarang, bahwa satu mata ibunya telah disumbangkan kepada dirinya yang seharusnya “Dialah yang memiliki mata satu”.
Tatapan nanar anak durhaka tersebut yang memandang ibunya yang tergolek tak berdaya dilantai telah kering dari air mata, seakan-akan air mata pun tidak sudi dan tidak mau menyumbangkan kesedihan air matanya untuknya.
Kini, di benaknya tertimbun setumpuk penyesalan atas perbuatannya dan setumpuk dosa telah terparti di dalam otaknya. Wanita mata satu itu yang telah mengorbankan hidup deminya telah meregang nyawanya akibat perbuatannya yang sungguh….sungguh…sangat durhaka………..
Penyesalan datang tiada guna, nasi sudah jadi bubur…….itulah istilah yang pas ditujukan untuknya………
Friday, January 13, 2012
Ibuku hanya memiliki satu mata
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Keesokan harinya di sekolah "Ibumu hanya punya satu mata?!?!" Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, "Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!" Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang
menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"
Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, betapa kagetnya dia setelah membaca surat itu, ternyata satu rahasia besar yang terpendam selama ini telah terkuak. Dan baru diketahui olehnya sekarang, bahwa satu mata ibunya telah disumbangkan kepada dirinya yang seharusnya “Dialah yang memiliki mata satu”.
Tatapan nanar anak durhaka tersebut yang memandang ibunya yang tergolek tak berdaya dilantai telah kering dari air mata, seakan-akan air mata pun tidak sudi dan tidak mau menyumbangkan kesedihan air matanya untuknya.
Kini, di benaknya tertimbun setumpuk penyesalan atas perbuatannya dan setumpuk dosa telah terparti di dalam otaknya. Wanita mata satu itu yang telah mengorbankan hidup deminya telah meregang nyawanya akibat perbuatannya yang sungguh….sungguh…sangat durhaka………..
Penyesalan datang tiada guna, nasi sudah jadi bubur…….itulah istilah yang pas ditujukan untuknya………
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang
menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.
Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"
Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.
"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, betapa kagetnya dia setelah membaca surat itu, ternyata satu rahasia besar yang terpendam selama ini telah terkuak. Dan baru diketahui olehnya sekarang, bahwa satu mata ibunya telah disumbangkan kepada dirinya yang seharusnya “Dialah yang memiliki mata satu”.
Tatapan nanar anak durhaka tersebut yang memandang ibunya yang tergolek tak berdaya dilantai telah kering dari air mata, seakan-akan air mata pun tidak sudi dan tidak mau menyumbangkan kesedihan air matanya untuknya.
Kini, di benaknya tertimbun setumpuk penyesalan atas perbuatannya dan setumpuk dosa telah terparti di dalam otaknya. Wanita mata satu itu yang telah mengorbankan hidup deminya telah meregang nyawanya akibat perbuatannya yang sungguh….sungguh…sangat durhaka………..
Penyesalan datang tiada guna, nasi sudah jadi bubur…….itulah istilah yang pas ditujukan untuknya………
Love Never Die
Ada seorng cewek memberikan tantangan kepada cowoknya untuk hidup tanpa dirinya, untuk tidak ada komunikasi sama sekali antara mereka selama sehari..Dia berkata pada cowoknya, kalo kamu bisa melewati itu, aku akan mencintai kamu selama nya.. Si cowoknya pun setuju,, dia tidak sms/telpon ceweknya seharian..
Tanpa dia ketahui bahwa ceweknya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..
Keesokan harinya si cowok pun pergi ke rumah ceweknya. Air matanya pun tiba2 menetes melihat ceweknya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari??
I LOVE YOU.."
Don't Ever lost contact with someone you care, you'll never know what's gonna happen the next day, or the day after that..
Even a single "hi" or a "good morning" Before you know that someone is no longer there....
Tanpa dia ketahui bahwa ceweknya hanya memiliki 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker..
Keesokan harinya si cowok pun pergi ke rumah ceweknya. Air matanya pun tiba2 menetes melihat ceweknya sudah terbaring dengan surat di tangannya yang tertulis "Kamu Berhasil Sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari??
I LOVE YOU.."
Don't Ever lost contact with someone you care, you'll never know what's gonna happen the next day, or the day after that..
Even a single "hi" or a "good morning" Before you know that someone is no longer there....
Subscribe to:
Posts (Atom)