Saturday, February 25, 2012

Ungkapan Hati Seorang Ayah

Anakku,
Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah berharap kau selalu menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda.
Nak,…
Saat Ayah pulang tadi, Bunda memberi tahu bahwa kau sedang pergi keluar untuk mengikuti les. Saat ini, sedang apa kau di sana? hari ini ketika Ayah pulang dari bekerja di luar sana, tiba-tiba Ayah teringat kamu, Nak.
Masih terekam dengan baik dalam ingatan Ayah, dahulu ketika mendapat kabar dari Bunda bahwa ia sedang mengandungmu. Betapa gembiranya Ayah sampai-sampai tak peduli kalau semua orang memandang Ayah yang berteriak karena senang.
Sejak saat itu, Ayah merasakan ada sesuatu yang membebani kaki ayah hingga begitu berat melangkahkan kaki keluar rumah untuk pergi ke mana saja, Ayah ingin selalu menjaga dan membelaimu, yang berada di dalam perut Bundamu.
Selama sembilan bulan sepuluh hari Ayah tak pernah melewati momen-momen yang terjadi pada Bunda bersama denganmu, Nak. Hingga waktu itu akhirnya tiba juga. Bunda melahirkanmu dengan selamat, saat itu Ayah selalu berada di sisi Bunda, tak pernah meninggalkannya sedetik pun, Ayah sangat menantikan kehadiranmu Nak.
Setelah kau hadir di dunia ini, Ayah berjuang untuk bekerja lebih giat, mencari nafkah demi menghidupi keluarga, termasuk kamu, Nak. Ayah tak merasa lelah meski harus pulang lebih lama. Ayah ingin kehidupanmu, masa depanmu, benar-benar terjamin. Kadang Bunda menasehati Ayah agar jangan bekerja terlalu keras, khawatir bisa sakit, namun Ayah katakan pada Bunda “Ayah senang melakukan ini semua, Bunda, demi anak kita.”
Ketika kau memasuki usia sekolah, kau berangkat dengan gembira, berpamitan dengan Bunda dan pergi dengan Ayah. Setelah kau menginjak bangku sekolah yang lebih tinggi, kau mulai malu karena Ayah selalu mengantarmu, kau minta agar Ayah tak perlu lagi mengantarmu. Cukup kaget Ayah saat itu, namun Ayah tahu bahwa kau sudah mulai beranjak lebih dewasa.
Ayah selalu berpesan agar pulang sekolah kau harus pulang dulu ke rumah sebelum kau pergi lagi dengan teman-temanmu. Namun, nasehat Ayah ternyata hanya kau ‘iya kan’, lewat Bunda, Ayah tahu bahwa kau selalu pulang terlambat tanpa ada pesan. Kau sudah membuat Ayah dan Bunda begitu khawatir. Ayah memang keras saat itu, memarahimu agar jangan mengulang hal itu lagi, namun Ayah tahu bahwa kau masih melakukannya.
Ayah kembali memarahimu. Namun, Bunda lebih memanjakanmu. Ketika Ayah bicara kau selalu cuek bahkan kau jalan melewati Ayah begitu saja, masuk ke kamarmu, padahal kau tahu Ayah sedang bicara denganmu. Ayah sempat berpikir, Ayah terlalu keras kepadamu yang membuatmu menjadi kesal. Ayah minta maaf, Ayah lakukan semua ini demi kebaikanmu, Nak.
Anakku…
Usiamu semakin dewasa, kebutuhanmu pun semakin bertambah. Uang yang Ayah berikan begitu cepat kau habiskan, sehingga kau sering meminta uang lebih kepada Ayah. Ayah berharap kau bisa mengerti kondisi Ayah, usia Ayah semakin tua, pekerjaan yang bisa Ayah lakukan pun semakin sedikit sehingga pendapatan Ayah berkurang. Namun kau selalu membalas kata-kata Ayah dengan nada lebih tinggi, “Ayah, kebutuhanku semakin banyak dan uang yang biasa Ayah kasih sudah tidak cukup lagi. Aku minta uangnya ditambah!”
Nak, …
Ayah dan Bunda merindukan sosok dirimu seperti yang dulu. Ayah tahu kau tumbuh dan berkembang, Ayah hanya minta darimu agar kau bisa mengerti kondisi Ayah dan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Ayah dan Bunda.
Nak, …
Belum pernah Ayah bersedih seperti ini, Ayah sadar saat ini Ayah sangat merindukanmu, Ayah ingin lebih dekat denganmu, Nak.
Ayah, Yang selalu menyayangimu

Surat Untuk Mama

Kisah ini terjadi di suatu pagi yang cerah, yaa…mungkin tidak begitu cerah untuk seorang mama yang kebetulan memeriksa kamar putrinya. Dia mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan “untuk mama” di atas kasurnya dia mulai membuka surat itu
Mama tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat mama membaca surat ini aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekeasih ku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia, mama pasti setuju meski dia banyak tato yang melekat di tubuhnya juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa walaupun belum begitu tua (aku pikir zaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua).
Dia sangat baik terhadap ku, lebih lagi dia ayah dari anak dalam kandungan ku saat ini. dia meminta ku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan bisa membesarkannya bersama. Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan ekstasi yang sangat luas, dia juga meyakinkan ku bahwa kawin lari tidaklah begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh.
Aku tahu kalau dia punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia pada ku dengan cara yang berbeda. Mama…jangan khawatir keadaan ku, aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diri ku. Salam sayang untuk kalian semua . oh iya , berikan boneka ku untuk adik ku, dia sangat menginginkannya.
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, mama membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu
Ps : mama…tidak ada satu pun dari yang aku tulis di atas itu benar, aku hanya ingin menunjukan ada ribuan hal yang lebih mengerikan daripada nilai rapor ku yang buruk. Kalau mama mau menandatangani rapor ku di atas meja, panggil aku ya…aku tidak kemana-mana, aku ada di tetangga sebelah.






hanya lelucuan saja..
:D

Friday, February 17, 2012

Ibuku hanya memiliki satu mata

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Keesokan harinya di sekolah "Ibumu hanya punya satu mata?!?!" Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, "Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!" Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang
menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..
Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"

Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak di lantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.

"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!"

Bagaikan disambar petir di siang bolong, betapa kagetnya dia setelah membaca surat itu, ternyata satu rahasia besar yang terpendam selama ini telah terkuak. Dan baru diketahui olehnya sekarang, bahwa satu mata ibunya telah disumbangkan kepada dirinya yang seharusnya “Dialah yang memiliki mata satu”.

Tatapan nanar anak durhaka tersebut yang memandang ibunya yang tergolek tak berdaya dilantai telah kering dari air mata, seakan-akan air mata pun tidak sudi dan tidak mau menyumbangkan kesedihan air matanya untuknya.

Kini, di benaknya tertimbun setumpuk penyesalan atas perbuatannya dan setumpuk dosa telah terparti di dalam otaknya. Wanita mata satu itu yang telah mengorbankan hidup deminya telah meregang nyawanya akibat perbuatannya yang sungguh….sungguh…sangat durhaka………..

Penyesalan datang tiada guna, nasi sudah jadi bubur…….itulah istilah yang pas ditujukan untuknya………